I. PENDAHULUAN
Teknologi membuat dunia kini tanpa batas. Arus informasi begitu cepat tersebar berkat teknologi internet . Media komunikasi berkembang dengan sangat cepat dan semakin mutakhir, seperti dimulai dengan adanya surat kabar, radio, pesawat telepon, televisi, telepon selular, dan internet. Kemajuan teknologi komunikasi dimanfaatkan politisi untuk menjadikan sebagai media komunikasi untuk melakukan kampanye. Cara ini dinilai efektif dalam menarik dukungan masyarakat khususnya masyarakat yang bergelut dalam dunia maya.
Menurut Dan Nimmo (2000) ada tiga jenis kampanye, yaitu kampanye massa, kampanye antarpribadi dan kampanye organisasi. Kampanye massa meliputi kampanye tatap muka, menggunakan media elektronik dan media cetak sebagai perantara. Contohnya seperti radio, televisi, telepon dan surat kabar. Kampanye antarpribadi menggunakan kedekatan pribadi atau menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh lokal dalam setting yang relatif informal. Sedang kampanye organisasional, dilakukan oleh organisasi yang mendukung kandidat, organisasi yang mempunyai kepentingan khusus, kelompok penyokong dan partai politik.
Internet sebagai media komunikasi merupakan salah satu sarana kampanye yang banyak digunakan baik oleh partai-partai politik, calon legislatif, maupun calon presiden. Bila kita melihat pemilu 2009 yang lalu, media komunikasi dapat berperan dalam pencitraan calon legislatif maupun calon presiden dalam menarik hati masyarakat sebagai pemilih dalam pemilu caleg dan capres.
Salah satu media komunikasi online yang penulis bahas adalah “Blog”. Blog merupakan salah satu media online yang biasanya digunakan untuk menulis hal hal pribadi dan informasi. Tapi seiring dengan perkembangannya, fungsi blog mulai berubah. kini blog bisa digunakan untuk berbagai hal, dari hal hal yang sifatnya non komersil hingga yang sifatnya komersil. Blog alias web-blog adalah catatan harian (jurnal) yang dipublikasikan berkala melalui jaringan internet (Blog : Syam Asinar Radjam). Blog menjadi pilihan karena belakangan ini telah menjelma menjadi media publikasi yang dipakai para “pengrajin blog” atau peblog (bloger) untuk meraih tujuannya. Seorang peblog penggemar tanaman hias mempublikasikan koleksi tanamannya, tulisan seputar tips perawatan, sampai mengiklankan jenis tanaman yang ia jual. Peblog penulis, sastrawan, fotografer, penyanyi, menjadikan blog untuk sarana promosi karyanya sekaligus berinteraksi dengan penggemarnya. Sedikitnya ada empat fungsi blog (........................), yaitu :
1. Blog sebagai tempat untuk menuliskan diary
2. Blog sebagai tempat untuk belajar menjadi penulis
3. Blog digunakan sebagai media untuk melakukan kampanye
4. Blog sebagai media untuk menyimpan tutorial.
Berdasarkan Fungsi blog di atas, pada edisi kali ini penulis fokus membahas fungsi blog sebagai sarana untuk melakukan kampanye politik.
II. BLOG SEBAGAI MEDIA KAMPANYE POLITIK
“Sekarang politisi tahu bahwa setiap langkah, kata, ataupun ekspresi, akan direkam, dikemas, dan dihubungkan ke seluruh dunia, dalam beberapa menit.” (Edward Luce, Financial Times, 13/6/2008)
Politisi bisa melakukan banyak dengan memiliki blog pribadi. Ia bisa menyajikan gagasan-gagasan maupun pandangan sikap atas peristiwa, kasus, atau isu yang sedang marak dibicarakan. Politisi yang ngeblog bisa menyajikan profil pribadinya, mempromosikan gaya hidupnya yang sederhana, menceritakan pergulatan dan pengalaman hidupnya yang bisa memberi inspirasi, dan lain-lain. Dalam kebutuhan lain, blog bisa menjelma sebagai media kampanye politik untuk menggalang suara.
Komunikasi dalam dunia politik berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan, kebijakan, merekrut massa dunia politik, membangun citra para politisi, dan fungsi penting lainnya (CBN Newsletter, Oktober 2008). Selain media komunikasi yang umum digunakan dalam politik, media maya ternyata juga dapat menjadi 'senjata rahasia' para politisi untuk memenangkan ‘peperangan'. Kita bisa lihat ke belakang, saat Franklin D. Roosevelt - Presiden Amerika Serikat terdahulu - menggunakan media radio sebagai alat pendongkrak popularitasnya, juga John F. Kennedy yang menggunakan televisi sebagai media komunikasi politiknya. Bagaimana dengan saat ini?
John Kerry telah melakukan terobosan yang belum dilakukan capres Amerika Serikat. Dalam kampanye pemilu tahun 2004, Kerry memanfaatkan media blog atau web-blog sebagai alat kampanye. Jejaknya masih bisa dibaca melalui www.johnkerry.com.
Meski Kerry kalah, langkahnya diikuti oleh Hillary Clinton maupun Barack Obama. Kedua calon presiden dari Partai Demokrat Amerika Serikat ini pun berkampanye melalui blog. Klik saja www.barackobama.com atau www.hillaryclinton.com.
Barrack Obama menjadi satu figur yang menjadikan media maya sebagai ’senjata rahasia’ untuk memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Berbagai pengamat menilai kelihaian Obama dalam menggunakan TI sebagai media komunikasinya membuatnya bersinar terang dalam kampanye kali ini. Apa saja yang dilakukannya?
Media sosial dan Barrack Obama menjadi satu kesatuan aksi. Obama telah melakukan aturan pertama dari social media marketing, yakni menempatkan dirinya pada jaringan sosial dunia maya melalui blog dan membuat dirinya populer melalui Web 2.0. Obama memiliki 1,5 juta teman pada MySpace dan Facebook, juga 45.000 pengikut pada Twitter. Aktivitas personal Obama dalam jaringan sosial ini memudahkan dirinya untuk secara cepat membawa pengikut lebih banyak lagi.
Situs jejaring sosial Obama, My.BarrackObama.com, menempatkan user pada posisi yang sangat penting. Obama pun memperoleh banyak masukan dari user maupun pengakses situsnya. Dalam situs tersebut, user dapat membuat profil mereka sendiri, lengkap dengan deksripsi sesuai selera, daftar teman dan blog personal. User juga dapat bergabung dalam sebuah grup, berpartisipasi dalam meningkatkan pendapatan mereka, dan mengatur semua event lewat sebuah interface yang mudah digunakan dan familiar bagi user Facebook ataupun MySpace.
Obama berhasil menerapkan komunikasi politiknya secara efektif melalui media komunikasi Internet. Berikut ini beberapa strategi komunikasi politik yang digunakan oleh Obama melalui media Internet:
• Membuat Situs web my.BarackObama.com
• Mengisi konten video streaming “Yes We Can” di Situs Web my.BarackObama.com
• Menyarankan para pendukungnya membuat Blog di Facebook dan MySpace, dan mengisi dengan konten Streaming Video “Yes We Can” dari Obama agar dilihat masyarakat (Viral Marketing – jumlahnya meningkat secara exponensial).
• Melalui Situs my.BarackObama.com, dibangun Komunitas Blogs para pendukungnya.
• Mengisi Blogs para pendukungnya dengan berbagai aktivitas bersama, antara lain. Pengumpulan Dana, saran, pendapat dan dukungan kepada kandidat CaPres, komunikasi antar pendukung, dsb.
Penerapan strategi yang dilakukan oleh Barack Obama ini bisa dikatakan sangat ampuh, karena di Amerika Serikat saat ini mayoritas pendukung partai Demokrat maupun Republik memiliki akun pada situs Facebook dan MySpace sehingga banyak dari pendukung partai Republik menjadi berubah pola pikirnya dan mendukung Barrack Obama dalam pemilu.
Fenomena Obama mengoptimalkan penggunaan teknologi internet dalam kampanye pemilihan presiden AS tersebut, sangat memberikan pengaruh besar untuk semua pihak. Dengan berbagai kiprah kampanye di internet, Edward Luce menulis, kalau ada medali emas dalam pemanfaatan teknologi baru untuk tujuan politik, maka setiap aficionado akan menyerahkannya kepada Obama (Financial Times, 13/6).
Menurut Direktur Media Baru Obama Joe Rospars, tim kampanye melihat blog sebagai alat yang bisa untuk mencapai tiga sasaran, yakni membantu mengorganisasi pendukung, mengumpulkan dana, dan menyampaikan pesan (telling the campaign’s story). Memang tak diragukan lagi, blog terbukti merupakan alat efektif untuk menjangkau massa pemilih bagi para kandidat, dan corong bagi pemegang kekuasaan. Masalahnya, blog yang besar pengaruhnya itu juga tidak selamanya bebas nilai.
III. Penutup
Penggunaan layanan berbasis teknologi informasi semisal blog, menawarkan cara yang efektif bagi kandidat untuk mengungkapkan gagasannya secara langsung dengan pemilih. Penggunaan blog merupakan teknologi unik yang membantu mengintegrasikan strategi pemasaran politisi. Dengan blog, kandidat mempunyai kesempatan untuk membangun kontak langsung dengan pemilih melalui debat online yang dapat dilihat secara real time (langsung).
Ada dua dampak penggunaan blog. Pada sisi positif, selain karena sifatnya yang ada dalam jaringan internet, kelebihan dari blog lainnya adalah berdiri sendiri sebagai media, selain itu blog juga cenderung non-formal dalam penggunaan bahasa yang dipakainya.
Blog memungkinkan terjadinya interaktifitas antara sumber dengan penerima informasi. Informasi yang disampaikan akan langsung direspon, ditambahi, dikoreksi dan diperkaya oleh orang lain. Oleh karena itu, suatu topik mungkin bisa menjadi lebih menarik dengan adanya diskusi antara blooger dengan pengunjung weblognya. (Nurist Surayya dalam jurnalisme Weblog merupakan Pola Baru Jurnalisme Media Massa, hal 1, 2005) http://nurriest.blogdrive.com/archive/10.html.
Weblog adalah media yang digunakan secara personal, baik individual maupun institusional. Tidak ada persyaratan personal yang diberikan dari pihak manapun untuk bisa memiliki dan mengelola weblog sendiri. Formatnya yang mudah diaplikasikan dan pengelolaannya yang tidak rumit membuat media ini bisa dioperasikan oleh siapapun. Tidak diperlukan kemampuan teknis atau kemampuan dasar jurnalisme untuk mempublikasikan informasi dalam weblog.
Pada sisi negatif, potensi bahaya penggunaan blog adalah kampanye negatif. Sebab dengan sifat anonim-nya, politisi dapat saja mengirimkan informasi tentang skandal-skandal lawan politiknya tanpa diketahui identitasnya dan tanpa perlu mempertanggungjawabkannya. Selain itu beberapa kekurangan blog diantaranya adalah rentan terkena virus, hacker atau spywere. Untuk itu, ada beberapa upaya agar kekurangan ini dapat diminimalisir. Diantaranya yakni dengan menggunakan bahasa pemograman yang aman, manggunakan desein menarik, dan memiliki control penulisan artikel yang benar.
Sebelumnya lebih baik bila kita melihat terlebih dahulu faktor-faktor apa yang menyebabkan penggunaan blog sebagai media kampanye di Amerika Serikat menjadi berhasil. Adapun faktor-faktornya adalah banyaknya jumlah pengguna Internet yang ada di Amerika Serikat yaitu berjumlah 210 juta orang dari 300 juta orang penduduk, penggunaan Internet sebagai lifestyle, Internet sebagai media komunikasi yang lazim dipakai sehari-hari, seperti email,dll, pemahaman rakyat Amerika Serikat dalam menggunakan Internet, status masyarakat di Amerika yang mayoritas menengah ke atas, dll.
Bila kita bandingkan hal-hal tersebut dengan keadaan yang ada di Indonesia tentunya sangat jauh berbeda. Pertama-tama, kita lihat dulu jumlah pengguna Internet di Indonesia.
Sejauh mana media ini berdayaguna dalam upaya menggalang suara? Untuk masyarakat AS, blog sudah barang tentu bisa efektif. Internet sudah singgah di setiap rumah. Keunggulan lain, lewat blog, sang kandidat dan pemilih (pengunjung blog) dapat melakukan diskusi nan interaktif. Itu di AS. Bagaimana di Indonesia? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya blog. Alamatnya www.presidensby.info. Selain RI-1, banyak pejabat publik dan politisi Indonesia juga halaman pribadi di internet dalam format blog maupun situs. Sebut saja menteri pertahanan Juwono Sudarsono (www.juwonosudarsono.com), Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid (www.hnw.or.id), dan lain-lain. Alex Nurdin sang calon gubernur Sumatera Selatan juga punya blog, www.alexnoerdin.info.
Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah Blog juga dapat menjadi media kampanye politik yang efektif? Jawaban relatif. Taruhlah, contoh yang kita ambil adalah Pilkada. Jawabannya akan sangat bergantung pada seberapa banyak pengguna internet di wilayah yang sedang melangsungkan adurebut suara antar kandidat pemimpin daerah. Makin banyak, kian besar jumlah calon pemilih yang bisa digaet, dan sebaliknya.
Meski demikian, jangan nihilkan peran perantau. Para perantau yang kepincut dengan apa yang disajikan dalam blog, dapat menjadi penyampai pesan yang efektif. Terutama pada masyarakat yang memiliki nilai kekeluargaan yang tinggi. Besar kemungkinan, keputusan yang diambil seseorang untuk mencoblos siapa, dipengaruhi oleh saudara, paman, sepupu, atau sahabat dekatnya yang justru mengamati sang calon melalui pemberitaan di internet.
Karenanya, sudah barang tentu, blog milik sang calon pemimpin daerah harus mengedepankan isi atau konten. Informasi adalah hal utama. Soal tampilan atau desain, sekalipun juga penting, berada pada urutan berikutnya.
Membangun sebuah blog mestinya harus memperhatikan sajian tampilan yang tidak terlalu formal dan tidak terkesan kaku serta miskin sentuhan personal. Dan yang takkala penting harus direncanakan dengan memperhitungkan waktu kampanye politik. Sebenarnya, bagi blog yang khusus mendukung salah satu kandidat, masih banyak yang bisa dilakukan. Di antaranya, terus menampilkan informasi baru secara berkala, terus-menerus mengundang pembaca (melalui e-newsletter, email, serta milis), pasang iklan di media cetak atau cyber (misalkan Google Adwords), membangun dialog dengan para pembaca melalui fasilitas bilik komentar sehingga tercipta dialog nan interaktif, dan aneka upaya lainnya.
Wajib dicatat, berkampanye melalui dunia maya khususnya blog jauh lebih keras jika dibandingkan dengan membuat iklan di media lain. Bersiaplah menghadapi kritik pedas, caci maki hingga argumen cerdas - yang bukan tidak mungkin mematahkan argumen yang Anda berikan - yang dapat membuat publik yang semula simpati menjadi antipati pada Anda. Inilah realita komunitas online, yang memang terbiasa dengan komunikasi yang transparan, terbuka, logis, dan tanpa basa basi. Di media blog lah kecerdasan para politisi benar-benar teruji. Untuk mengantisipasi itu, sangat ceroboh jika seorang politisi masuk ke media blog tanpa disertai strategi dan pemahaman mendalam tentang komunitas online.
Semua bergantung pada kreatifitas dan kerja keras sang pengelola blog. Jika terkelola baik, niscaya berhasil mencapai beberapa tujuannya, seperti memopulerkan sang kandidat, menyosialisasikan program yang ditawarkan, mendorong terciptanya opini positif terhadap sang kandidat, bahkan menjaring calon pencoblos.
Masih sangat jauh memang jika melihat tingkat keberhasilan antara kampanye politik versi Obama Namun, tren ini patut dicermati dan dihargai demi kemajuan demokrasi Indonesia (rns).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar